Sabtu, 23 Maret 2013

Makalah Sejarah Kosmetik



PENDAHULUAN

1.     Latar Belakang

Berkembangnya ilmu pengetahuan di segala bidang, kemajuan di bidang teknologi, perkembangan sosial budaya, telah membawa perubahan dalam sikap hidup seseorang.  Kemajuan peradaban dan taraf kehidupan manusia, telah membawa manusia kearah pemenuhan kebutuhan, baik bersifat primer maupun bersifat sekunder.  Pada zaman modern ini, kelainan kulit estetik telah merupakan problema yang mendapat perhatian khusus dalam kehidupan manusia.  Pemakaian kosmetika merupakan hal yang sangat diperlukan oleh seseorang, sejak usia bayi- sampai usia lanjut, tidak terkecuali pria maupun wanita dengan tujuan untuk mendapatkan kulit yang sehat, wajah yang cantik, penampilan pribadi yang baik dan kepercayaan pada diri sendiri.  Perhatian yang berlebihan terhadap masalah kulit estetik, meluasnya pemakaian kosmetika oleh masyarakat dengan segala dampak positif dan negatif yang diterima oleh kulit,telah membawa perkembangan pula dalam ilmu Kedokteranpada umumnya, di bidang Dermatologi pada khususnya.

Dokter Ahli Kulit tidak hanya mengembangkan ilmunyadalam bidang Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, tetapi jugatelah mengembangkan ilmu di bidang kulit estetik yang meliputipenyakit kulit dengan keluhan estetik, kelainan-kelainankulit akibat penggunaan-penggunaan kosmetika, teknik perawatankulit dan penggunaan kosmetika, mempelajari segalasesuatu tentang kosmetika, baik mengenai bentuk dan bahan-bahannya,maupun absorpsi dan efeknya pada kulit dan IlmuBedah Kulit Estetik.Demikian pula dengan penderita yang datang kepada seorangDokter Ahli Kulit pada saat ini, tidak hanya denganDibawakan pada simposium Kosmetika pada tanggal 7 September1985. Penyelenggara P.A.D. V.I. JA YA.keluhan tentang penyakit kulit, tetapi juga dengan segala problemakulit estetik, pertanyaan-pertanyaan tentang perawatankulit, penggunaan kosmetika dan lain-lain.
Dibentuknya SubBagian Kosmetologi di FKUI — RSCM pada tahun 1970 dansampai saat ini telah berkembang di beberapa Bagian Ilmu PenyakitKulit dan Kelamin lainnya di Indonesia, telah memegangperanan penting dalam menangani segala masalah yangmenyangkut bidang kulit estetik tersebut di atas.
Dalam sejarah kosmetologi dan kosmetika, ilmu kedokterantelah ikut mengambil peranan sejak zaman kuno.  Data-data diperoleh ,dari penyelidikan antropologi, aerkologi, dan etnologi di Mesir dan India dengan ditemukannya salep-salep aromatik, bahan-bahan pengawet mayat dan lain-lain yang dapat dianggap sebagai bentuk awal dari kosmetika.  Seorang bapak ilmu kedokteran HIPPOCRATES (460 — 370 S.M.) dan kawan-kawan telah membuat resep-resep kosmetika dan menghubungkannya dengan ilmu kedokteran.  Ilmu Kedokteran bertambah luas dan kosmetologi terus berkembang, maka diadakan pemisahan kosmetologi dari Ilmu Kedokteran (HENRI de NODEVILI 1260 — 1325), dikenal 2 bentuk kosmetika :
1. Kosmetika untuk merias (decoratio)
2. Kosmetika untuk pengobatan kelainan patologi kulit.
GOODMAN, H. (1936), seorang dermatolog telah mempelajari secara mendalam tentang kosmetika baik mengenai sifat-sifat fisika, kimia, fisiologi dari bahan-bahannya, maupun tentang pemakaian dan akibat-akibatnya pada kulit.  Penulis mengemukakan perlunya latar belakang dermatologi dalam masalah kosmetika, yang , pengetahuan yang lengkap tentang kulit dan fungsinya, pengalaman yang luas tentang penggunaan dan pemakaian remedial kosmetika pada kulit, penelitian lebih jauh tentang berbagai efek bahan-bahan kosmetika terhadap kulit.  Pada tahun 1700 — 1900 kosmetika dibagi menjadi :


1. Cosmetic decorative yang lebih banyak melibatkan ahli kecantikan.
2. Cosmetic treatment yang berhubungan dengan ilmu kedokteran dan beberapa ilmu pengetahuan lainnya seperti dermatologi, farmakologi, kesehatan gigi dan lain-lain.  Pada abad modern ini kosmetologi dan kosmetika telah melibatkan banyak profesi, seperti dokter ahli kulit, ahli farmasi, ahli kimia, ahli biokimia, ahli mikrobiologi, ahli fotobiologi, ahli imunologi, ahli kecantikan dan lain-lain.
PEMBAHASAN

Pengertian kosmetik dan bentuk-bentuk kosmetik di kemukakan oleh beberapa ahli kosmetologi antara lain :
v  Menurut JELLINEX, kosmetologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hukum-hukum kimia, fisika, biologi dan microbiologi tentang pembuatan, penyimpanan dan penggunaan bahan kosmetika.
v  Menurut FEDERAL FOOD AND COSMETIC ACT (1958)sesuai dengan definisi dalam Peraturan Menteri Kesehatan R.I.  No.220/Men Kes/Per/IX/76. Kosmetika adalah bahan atau campuran bahan untuk digosokkan, dilekatkan, dituangkan, dipercikkan atau disemprotkan pada, dimasukkan dalam, dipergunakan pada badan manusia dengan maksud untuk membersihkan, memelihara, menambah daya tank dan mengubahrupa dan tidak termasuk golongan obat. Zat tersebut tidak boleh mengganggu faal kulit atau kesehatan tubuh secarakeseluruhan. Dalam definisi ini jelas dibedakan antara kosmetikadengan obat yang dapat mempengaruhi struktur danfaal tubuh.
v  Dalam perkembangan kosmetika, saat ini pada beberapa produk tertentu batas antara kosmetika dan obat menjadi kabur.  LUBOWE (1955) mengemukakan istilah Cosmedics disusul oleh FAUST (1975) dengan istilah Medicated Cosmetics untuk bentuk gabungan dari kosmetika dan obat.  Kosmedik adalah kosmetika yang ke dalamnya ditambahkan bahan-bahan aktif tertentu seperti zat-zat anti bakteri atau jasad renik lainnya, anti jerawat, anti gatal, anti produkkeringat, anti ketombe dan lain-lain dengan tujuan profilaksis,desinfektan, terapi dan lain-lain.

v  Kosmetika hipoalergik; adalah kosmetika yang di dalamnya tidak mengandung zat-zat yang dapat menyebabkan reaksi iritasi dan reaksi sensitasi.  Kosmetika jenis ini bila dapat terwujud akan merupakan kosmetika yang lebih aman untuk kesehatan kulit. Banyak bahanbahan yang sering menimbulkan reaksi iritasi dan sensitasi telah dikeluarkan dari daftar kosmetika hipoalergik seperti arsenic compounds, aluminium sulfat , aluminium klorida, balsam of peru, fenol, fern)] formaldehide, gum arabic, lanolin, mercury compounds, paraphenylennediamin, bismuth compounds,oil of bergamot, oil of lavender, salicylic acid, resoisinol, heksaklorofen dan lain-lain.
v  Kosmetika tradisional adalah kosmetika yang terdiri dari bahan-bahan yang berasal dari alam dan diolah secara tradisional.  Di samping itu, terdapat kosmetika semi-tradisional, yaitu kosmetika tradisional yang pengolahannya dilakukan secara modern dengan mencampurkan zat-zat kimia sintetik ke dalamnya. Seperti bahan pengawet, pengemulsi dan lain-lain.  Kegunaan kosmetika ini dalam ilmu kedokteran baik untuk pemeliharaan kesehatan kulit maupun untuk pengobatan masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Banyaknya kosmetika yang beredar dengan segala macambentuk dan nama, telah membingungkan baik para pemakaimaupun pihak-pihak lain yang berperan serta di dalamnya.Untuk itu para ahli berusaha mengelompokkan kosmetikasesederhana mungkin. Tetapi penggolongan yang dibuatmasing-masing ahli ternyata tidak beda satu dengan lainnya,sehingga terdapat beberapa bentuk penggolongan sebagaiberikut :

ü Penggolongan menurut Peraturan Menteri Kesehatan R.I.berdasarkan kegunaan dan lokalisasi pemakaian pada tubuh,kosmetika digolongkan menjadi 13 golongan.
1. Preparat untuk bayi; minyak bayi, bedak bayi, dan lainlain.
2. Preparat untuk mandi; minyak mandi, bath capsules, danlain-lain.
3. Preparat untuk mata; maskara, eye shadow, dan lain-lain.
4. Preparat wangi-wangian; parfum, toilet water dan lainlain.
5. Preparat untuk rambut; cat rambut, hairspray, pengeritingrambut dan lain-lain.
6. Preparat pewarna rambut; cat rambut, hairbleach, danlain-lain.
7. Preparat make up (kecuali mata); pemerah bibir, pemerahpipi, bedak muka dan lain-lain.
8. Preparat untuk kebersihan mulut; mouth washes, pastagigi, breath freshener dan lain-lain.
9. Preparat untuk kebersihan badan; deodoran, feminismhygiene spray dan lain-lain.
10. Preparat kuku; cat kuku, krem dan lotion kuku, danlain-lain.
11. Preparat cukur; sabun cukur, after shave lotion, danlain-lain.
12. Preparat perawatan kulit; pembersih, pelernbab, pelindungdan lain-lain.
13. Preparat untuk suntan dan sunscreen; suntan gel, sunscreenfoundation dan lain-lain.
ü  Penggolongan menurut NATER, Y.P. dan kawan-kawanberdasarkan kegunaannya :
1. Higiene tubuh : sabun, sampo, cleansing.
2. Rias : make up, hair color.
3. Wangi-wangian : deodorant, parfum, after shave.
4. Proteksi : sunscreen dan lain-lain.

ü  Pembagian yang dipakai di Bagian Kosmetologi IlmuPenyakit Kulit dan Kelamin, berdasarkan kegunaan dan carabekerjanya kosmetika dibagi dalam kelompok.
1. Kosmetika pemeliharaan dan perawatan kulit terdiri dari :
a. Pembersih (cleansing) : pembersih dengan bahan dasarair (face tonic, skin freshenerdan lain-lain), pembersihdengan bahan dasar minyak (cleansing cream, cleansingmilk, dan lain-lain), pembersih dengan bahan dasar padat(masker).
b. Pelembab (moisturizing) : cold cream, night cream,moisturizing, base make up dan lain-lain.
c. Pelindung (protecting) : sunscreen, foundation cream,dan lain-lain.
d. Penipis (thinning) : bubuk peeling dan lain-lain.
2. Kosmetika rias (decorated cosmetic) : kosmetika yang dipakaiuntuk make up seperti : pemerah pipi, pemerah bibir,eye shadow dan lain-lain.
3. Kosmetika wangi-wangian : parfum, cologne, deodoran,vaginal spray, after shave dan lain-lain.
Kulit adalah organ tubuh yang hidup berguna untuk melindungi organ-organ dalam tubuh terhadap pengaruh luar seperti sinar matahari, trauma mekanis, bahan kimia, infeksi dan lain lain.  Memelihara keseimbangan cairn tubuh dan mempertahankan suhu tubuh.  Menyokong penampilan dan kepribadian seseorang, kepentingan estetik, ras dan lain-lain.
Faktor-faktor dalarn kulit dan di luar kulit yang dapatmempengaruhi absorpsi bahan-bahan melalui kulit telah banyakdiselidiki. Kulit terdiri dari epidermis (kulit ari), dermis(kulit jangat) dan subkutis. Setiap lapisan kulit tidak samapermeabilitasnya, lapisan epidermis lebih impermeabel daripada dermis. Lapisan stratum korneum (lapisan tanduk) padaepidermis merupakan lapisan barrier dari kulit dan merupakandasar permeabilitas yang selektif dari kulit terhadap berbagaibahan dari luar (SCHEUPLEIN, 1976).Absorpsi dan penetrasi dari bahan-bahan yang digunakan secaratopikal dapat terjadi melalui 3 cara :
1. Melalui seluruh permukaan stratum korneum yang utuh yang merupakan 99,7% dari  permukaan kulit (transepidermalresorption).
2. Melalui folikel rambut yang merupakan 0,2% dari permukaankulit (transfollicular resorption).
3. Melalui saluran kelenjar keringat, merupakan 0,04% daripermukaan kulit.Sejumlah bahan-bahan dapat melewati permukaan kulit, karenakulit merupakan media difusi. Difusi melalui lapisan epidermisberlangsung secara lambat dan pasif, difusi melaluifolikel rambut berlangsung cepat dan aktif, sedangkan peranankelenjar keringat sebagai media difusi sangat kecil. Setiap bahanmempunyai keniampuan tertentu untuk berdifusi. Bahanbahanyang larut air mempunyai kemampuan berdifusi lebihkecil dibandingkan bahan-bahan yang larut lemak.Menurut YANET MARKS (1976) terdapat beberapa factor yang mempengaruhi absorpsi dan penetrasi bahan-bahanmelalui kulit.
Efek dari kosmetik yaitu preparat kosmetika 95% terdiri dari bahan dasar dan hanya 5% bahan aktif, bahkan kadang-kadang tidak mengandung bahan-bahan aktif.  Jadi sifat dan efek dari preparat kosmetika tidaklah ditentukan oleh bahan aktifnya, tetapi terutama oleh bahan dasarnyaefek dari bahan dasar Dari golongan kosmetika ternyata bahan dasar yang terbanyakdipakai adalah lemak/minyak, selain itu dipakai pulaair, alkohol dan lain-lain.
·      Lemak
Menurut LEITZ, komposisi lemak yang terdapat pada tubuh atau kulit berbeda dengan lemak yang terdapat di alam (lemak pada kosmetika). Jadi tidak mungkin secara fisiologis/biologis lemak disuplai dari luar ke dalam kulit untuk menggantikan fungsi metabolisme dari lemak kulit. Meskipun lemak dapat diabsorpsi oleh kulit, tetapi sejauh mana absorpsi dapat terjadi, dan setelah absorpsi bagaimana fungsinya di dalam tubuh, belum dapat dijelaskan dengan pasti, karena adanya pendapat yang berbeda antara para penulis. Jadi jelaslah bahwa kegunaan lemak dalam preparat kosmetika hanya diharapkan untuk membentuk lapisan pelin dung pada permukaan kulit dan memberi kesan berlemak pada kulit.
·      Air
Air dapat diabsorpsi oleh kulit, tetapi air dan bahan-bahan yang larut air lebih sulit mengadakan penetrasidaripada lemak dan bahan-bahan larut lemak. Tingkat penetrasi bahan-bahan yang larut air tergantung pada jumlah (water content) dari stratum corneum. Sehingga air bukanlah bahan dasar yang baik untuk mengantarkan bahan aktif ke dalam lapisan kulit.  Air sebagai bahan dasar banyak dipakai pada preparat pembersih, karena air mudah berhubungan dengan semua bagian tubuh, dapat melunakkan stratum corneum dan membesihkan kotoran yang dapat larut di dalamnya. Tetapi air tidak punya daya membasahkan kulit yang sempurna (wetting effect), dan juga bakteri dan sebagian besar kotoran tidak dapat larut dalam air. Untuk mendapatkan efek pembersih yang sempurna ke dalam bahan dasar air, perlu ditambahkan bahan dasar lainnya, seperti minyak (cleansing cream), alcohol 20 — 40% (skin freshener, face tonic), surfactant (sabun, detergen lainnya).
·      Alkohol
Pemakaian bahan-bahan aktif dalam pelarut organik seperti alkohol, aseton, ether, chloroform dan lain-lain tidak dianjurkan karena efek iritasinya pada kulit.  Pemakaian alkohol 20 — 40% pada preparat pembersih bertujuan untuk mendapatkan efeknya yaitu :
1. dapat meninggikan permeabilitas kulit terhadap air.
2. mengurangi tegangan permukaan kulit sehingga daya pembasahan oleh air lebih baik.
3. memperbaiki daya larut kotoran berlemak.
4. bersifat sebagai astringen dan desinfektan.
 Efek dari bahan aktif Pemakaian preparat topikal yang mengandung bahan aktif akan bermanfaat bila :
1. bahan tersebut dapat diabsorpsi oleh kulit sekurang-kurangnya sebagian dari padanya.
2. tidak mudah teroksidasi.
3. ada khasiatnya pada kulit.
4. pemberian secara oral tidak mungkin dilakukan atau efeknya merugikan.  Bahan-bahan aktif yang biasanya ditambahkan ke dalam preparat kosmetika antara lain vitamin, hormon, protein, enzim, ekstrak binatang dan tumbuh-tumbuhan.

DAFTAR PUSTAKA

1.      Balsam MS and Sagarin E. Cosmetics science and technology vol. 1, 2nd ed. New York, London, Sydney, Toronto : Wiley Inter science, 1972.
2. Balsam MS and Sagarin E. Cosmetics science and technology vol. 3, 2nd ed. New York, London, Sydney, Toronto : Wiley Interscience, 1974.
3. Faust RE. The Chemistry and Manufacture of Cosmetics, vol IV 2nd ed. Orlando Flourd : Continental Press, 1975.
4. Frost P and Horwitz SN. Principles of Cosmetics for dermatologist. St Louis, Toronto, London : The CV Mosby Co, 1982.
5. Goodman H. Cosmetic Dermatology. New York, London : Mc Graw Hil Book Co, 1936.
6. Yellinex YS. Formulation and function of cosmetics 2nd ed. New York, London : Wiley Interscience, 1970.
7. Karnen B. Reaksi Kulit Terhadap Kosmetika. Rapat Konsultasi Keamanan Kosmetika. Dirjen POM Depkes RI, Jakarta 1979.
8. Leitz G. Cosmetic and the supply of fats to the skin. In : Soap, Perfumery and Cosmetic, vol XLIII 2nd ed, 1968.

0 komentar:

Poskan Komentar

Tidak diperkenankan berkomentar menggunakan Anonim. berkomentarlah dengan baik dan sopan. masukan serta bertukar ilmu pengetahuan dengan anda sangat kami butuhkan.